REPUBLIKBERITA.CO.ID, MARTAPURA – Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriyah, semangat berbagi dan kepedulian terhadap pemenuhan gizi anak-anak sekolah di Kota Banjarbaru tetap terjaga. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini menjadi salah satu upaya mendukung tumbuh kembang peserta didik, tetap berjalan meski suasana puasa tengah menyelimuti aktivitas belajar mengajar.
Salah satu sekolah yang terus menerima distribusi MBG adalah SD Negeri 1 Loktabat Utara, Banjarbaru. Pantauan pada Senin (23/2/2026), paket MBG dibagikan langsung kepada siswa menjelang jam pulang sekolah. Berbeda dari hari biasa, menu yang disalurkan kali ini berupa makanan kering yang dapat dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka puasa.
Isi paket MBG terdiri dari roti, telur, buah pisang, dan keripik tempe. Menu tersebut dirancang praktis dan tahan lebih lama, sehingga tetap relevan dengan kondisi Ramadan tanpa mengurangi nilai gizinya.
Kepala SD Negeri 1 Loktabat Utara, Muhammad Muhransyah, menegaskan bahwa distribusi MBG tetap berjalan berdasarkan koordinasi dengan pihak penyedia.
“Sesuai koordinasi kami dengan SPPG selama tiga pekan ini MBG tetap diberikan, disalurkan ke anak-anak kami,” ujarnya saat diwawancarai.
Distribusi di sekolah tersebut dilakukan dua kali dalam sepekan, yakni setiap Senin dan Kamis. Dalam sekali pembagian, paket yang diberikan mencukupi kebutuhan untuk tiga hari. Skema ini dipilih agar lebih efektif sekaligus menyesuaikan dengan pola konsumsi selama Ramadan.
Muhransyah, yang akrab disapa Muhran, menjelaskan bahwa perubahan jenis menu menjadi makanan kering merupakan langkah adaptif.
“Tadi kami lihat bahwa makanan yang diberikan berupa makanan kering, artinya bisa dibawa pulang anak-anak dan cukup bisa bertahan beberapa hari. Ini berbeda dengan MBG pada hari biasa,” bebernya.
Lebih jauh, pihak sekolah juga memperhatikan aspek psikologis dan kekhidmatan ibadah puasa para siswa. Pembagian dilakukan tepat sebelum jam pulang, sehingga anak-anak langsung memasukkan paket ke dalam tas dan pulang ke rumah tanpa tergoda untuk mengonsumsinya di sekolah.
“Sehingga ketika MBG-nya datang langsung anak-anak mengemasnya di tas masing-masing dan langsung pulang. Jadi tidak lantas terpikir atau rasanya tergoda,” tuturnya.
Dari sisi orang tua, kebijakan ini disambut positif. Salah satu wali murid, Isnawati, mengapresiasi distribusi MBG dalam bentuk makanan kering yang dinilai lebih fleksibel selama Ramadan. Namun, ia memberikan masukan agar variasi menu dapat ditambah.
“Kalau makanan itu khususnya susu, karena anak-anak rata-rata banget kalau makanan kecil itu biskuit. Itu saja sarannya,” ungkapnya.
Keberlanjutan distribusi MBG di tengah Ramadan menjadi bukti bahwa komitmen pemenuhan gizi siswa tidak berhenti oleh momentum ibadah. Justru, dengan penyesuaian pola distribusi dan jenis menu, program ini tetap berjalan selaras dengan suasana bulan suci menguatkan nilai kepedulian, tanpa mengurangi kekhusyukan berpuasa.
