

REPUBLIKBERITA.CO.ID., BANJARBARU – Polemik dugaan bullying di SD Sanjaya Banjarbaru semakin memanas. Pihak sekolah membantah adanya kasus perundungan, sementara orang tua murid bersikeras bahwa anaknya benar-benar menjadi korban.

Wakil Kepala Sekolah SD Sanjaya, Krista, menegaskan bahwa yang terjadi di sekolah mereka bukanlah bullying, melainkan sekadar kenakalan anak-anak.
“Tidak ada bullying di sekolah kami, yang terjadi hanya kenakalan anak. Kalau bullying biasanya ada korban diam, sementara dua murid ini sama-sama membela diri,” ujarnya, Senin 30 September 2025.
Menurutnya, kasus perkelahian antara dua murid tersebut sudah langsung ditangani guru. Kedua anak didamaikan saat itu juga. Namun, salah satu murid kemudian melapor kepada orang tuanya hingga masalah berkembang lebih besar.
Pihak sekolah pun memfasilitasi mediasi antara orang tua, guru, dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Dalam pertemuan itu, orang tua korban meminta agar pelaku dipindahkan dari sekolah. Namun, sekolah menawarkan solusi lain dengan memisahkan kelas kedua murid. Meski begitu, hingga kini korban memilih tidak masuk sekolah.
“Ke depan, kami akan meningkatkan pengawasan. Di sekolah juga sudah dipasang CCTV untuk memantau aktivitas anak-anak,” tambah Krista.
Orang Tua Murid: “Anak Saya Sering Dibully, Jangan Disangkal”
Pernyataan pihak sekolah yang menolak adanya bullying membuat orang tua murid korban semakin kecewa. Ia menilai pihak sekolah tidak serius menangani masalah yang sebenarnya sudah terjadi berulang kali.
“Anak saya sudah sering jadi korban. Bahkan pernah luka dan penglihatannya terganggu akibat dipukul. Jadi, tolong jangan menyangkal fakta,” tegasnya.
Ia menyebut, dalam mediasi sebelumnya, hasilnya tidak menyentuh inti persoalan. Menurutnya, perlindungan terhadap anak korban harus menjadi prioritas, bukan sekadar mencari solusi sementara.
“Anak kami berhak belajar tanpa rasa takut, tanpa intimidasi, serta tanpa ejekan maupun tekanan, baik dari teman sebaya maupun orang dewasa di lingkungan sekolah,” ungkapnya.
Orang tua murid tersebut juga meminta agar keberadaan pelaku ditinjau kembali, dengan langkah tegas berupa pemindahan kelas atau bahkan dikeluarkan dari sekolah.
“Harus ada konsekuensi yang jelas, agar tindakan kekerasan tidak ditoleransi di dunia pendidikan,” ujarnya.
Minta SOP Anti-Bullying dan Transparansi Sekolah
Selain itu, orang tua korban mendesak sekolah memiliki SOP perlindungan anak yang jelas, termasuk mekanisme pelaporan kasus bullying. Ia menilai guru juga perlu mendapat pelatihan dalam menangani kasus perundungan, agar tidak lagi meremehkan atau bahkan menyangkal laporan korban.
“Komunikasi sekolah dengan orang tua harus transparan. Jangan ditutup-tutupi, apalagi sampai menekan korban atau mengalihkan isu,” katanya.
Di akhir pernyataan, ia berharap pihak sekolah bisa berlaku adil kepada semua murid tanpa membeda-bedakan latar belakang keluarga.
“Jangan ada perbedaan perlakuan antara murid dari keluarga mampu atau tidak mampu. Saya tahu mungkin banyak pihak yang tidak suka dengan saya, tapi ini harus saya sampaikan demi kebaikan semua anak,” tutupnya.

