REPUBLIKBERITA.CO.ID, MARTAPURA – Proyek pembangunan jembatan di Desa Sungai Batang, Kecamatan Martapura Barat, nyaris menelan korban jiwa. Empat pekerja dikabarkan tenggelam saat menyeberangi sungai menuju lokasi kerja, diduga karena kelalaian pihak kontraktor dalam menerapkan standar keselamatan kerja.
Peristiwa itu terjadi saat para pekerja hendak mengerjakan bagian seberang pondasi jembatan. Mereka menggunakan perahu untuk menyeberang, namun tiba-tiba perahu tersebut tenggelam.
Salah satu warga setempat, Dayat, menuturkan bahwa insiden itu hampir berujung fatal.
“Ada empat orang pekerja yang tenggelam, untungnya semua selamat. Tapi salah satu dari mereka sudah sangat pucat dan ketakutan,” ujarnya, Sabtu
Dayat juga menyoroti lemahnya pengawasan keselamatan di lapangan. Ia menyebut para pekerja tidak dibekali pelampung maupun perlengkapan keamanan lain saat bekerja di area berisiko tinggi.
“Harusnya kalau pekerjaannya menyebrangi sungai, minimal pakai pelampung. Tapi mereka tidak dibekali apa-apa,” tambahnya.
Lebih memprihatinkan, perahu yang digunakan pekerja merupakan milik warga setempat dan tenggelam dalam insiden itu. Hingga kini, kata Dayat, pihak kontraktor belum menepati janji untuk mengganti perahu tersebut.
“Katanya mau diganti, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” keluhnya.
Ketika dikonfirmasi, Reza, penanggung jawab proyek dari pihak kontraktor, membenarkan adanya insiden tersebut.
“Benar, kemarin ada pekerja kami yang tenggelam,” ujarnya singkat.
Reza juga mengakui bahwa pihaknya memang tidak menyediakan pelampung keselamatan bagi pekerja.
“Untuk pelampung memang tidak kami berikan waktu itu,” katanya.
Menurut Reza, hal itu terjadi karena alat yang biasanya digunakan untuk mengirim perlengkapan proyek sedang rusak, sehingga pekerja terpaksa menggunakan perahu warga.
“Waktu itu alat kami rusak, jadi pakai perahu seadanya,” tuturnya.
Meski demikian, Reza berjanji pihaknya akan mengganti perahu milik warga yang tenggelam dalam waktu dekat.
“Dalam beberapa hari ke depan akan kami ganti,” ucapnya.
Diketahui, proyek jembatan yang menelan anggaran lebih dari Rp2 miliar itu mulai dikerjakan pada Juli 2025 dan ditargetkan selesai pada Desember 2025. Saat ini, progres pekerjaan diklaim sudah mencapai 80 persen.
Namun, insiden ini menimbulkan pertanyaan besar terkait komitmen keselamatan kerja kontraktor di lapangan. Dalam proyek bernilai miliaran rupiah, seharusnya aspek K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) menjadi prioritas utama, bukan sekadar formalitas.
Minimnya perlengkapan keselamatan seperti pelampung dan pengawasan ketat bisa saja berujung pada tragedi fatal. Pemerintah daerah dan instansi pengawas proyek publik diharapkan segera turun tangan untuk memastikan semua kegiatan konstruksi di wilayah Martapura Barat berjalan sesuai standar keselamatan yang berlaku.
“Mudah-mudahan ke depan tidak ada lagi musibah seperti ini. Kami akan lebih memperhatikan keselamatan pekerja,” tutup Reza.
