Kabupaten Banjar-Musim kemarau membawa tantangan bagi masyarakat Desa Mekar Sari, Kecamatan Tatah Makmur, Kabupaten Banjar. Hampir seluruh warga di empat RT kini harus mengandalkan pasokan air dari armada tangki BPBD setelah sumber air yang biasa digunakan mulai berkurang, sementara air sungai di sekitar permukiman berubah menjadi asin dan tidak dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi.
Bagi warga, distribusi tersebut menjadi penopang untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar. Mereka datang membawa jeriken dan galon, kemudian menampung air untuk dibawa pulang dan digunakan terutama untuk minum serta memasak.
Kepala Desa Mekar Sari, Jarkani, mengatakan tingginya kebutuhan air membuat bantuan tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat.
“Air bersih ini sangat krusial bagi masyarakat karena sebagian besar warga mengambilnya menggunakan jeriken untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti memasak, minum dan kebutuhan sanitasi dasar,” ujar Jarkani.
Kondisi ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat beradaptasi ketika sumber air tidak lagi dapat diandalkan. Setiap distribusi berlangsung, warga berkumpul secara tertib dengan membawa wadah masing-masing. Mereka bahkan saling membantu mengisi air menggunakan corong, sehingga proses pembagian berlangsung lancar.
“Respons masyarakat sangat positif, antusias dan kooperatif. Warga tampak sigap berkumpul di lokasi truk tangki dengan membawa berbagai wadah seperti jeriken dan galon. Mereka secara tertib dan gotong royong saling membantu mengalirkan serta mengisikan air menggunakan corong ke dalam jeriken masing-masing,” tutur Jarkani.
Meski sangat membantu, pasokan dari tangki belum dapat menjadi jawaban untuk seluruh kebutuhan rumah tangga. Dengan kapasitas wadah yang umumnya sekitar 10 hingga 20 liter, air yang diterima lebih diprioritaskan untuk kebutuhan utama dan hanya mampu menopang kebutuhan warga dalam waktu terbatas.
Kebutuhan seperti mandi dan mencuci pakaian membutuhkan pasokan yang lebih besar. Karena itu, pemerintah desa melihat distribusi tangki sebagai langkah penanganan sementara sembari mengupayakan akses air yang lebih berkelanjutan.
Jarkani berharap selama kemarau masih berlangsung, dukungan distribusi dapat ditingkatkan, baik dari sisi frekuensi maupun volume, sehingga masyarakat memiliki kepastian pasokan.
“Harapan kami ada penambahan frekuensi dan volume distribusi air bersih selama masa krisis kemarau berlangsung. Dengan adanya penjadwalan rutin, masyarakat akan lebih terbantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Namun, kebutuhan masyarakat tidak berhenti pada penanganan darurat. Pemerintah Desa Mekar Sari juga berharap tersedia infrastruktur yang mampu memberikan sumber air secara mandiri dalam jangka panjang.
Perluasan jaringan pipa PDAM atau PAM desa maupun pembangunan sumur bor dalam menjadi pilihan yang diharapkan dapat diwujudkan. Kehadiran fasilitas tersebut dinilai penting agar masyarakat memiliki sumber air yang lebih stabil dan tidak selalu menunggu bantuan ketika kemarau kembali datang.
“Untuk jangka panjang, kami berharap ada pembangunan infrastruktur air permanen, seperti perluasan jaringan pipa PDAM atau PAM desa atau pembuatan sumur bor dalam. Dengan begitu, masyarakat memiliki akses air bersih yang stabil dan mandiri,” pungkas Jarkani.
Bagi Mekar Sari, persoalan air bersih menjadi pelajaran penting bahwa ketahanan desa juga bergantung pada kemampuan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Gotong royong warga dan dukungan pemerintah menjadi langkah awal, sementara pembangunan sumber air permanen menjadi harapan agar kebutuhan tersebut dapat terjamin dalam jangka panjang.
