RepublikBerita, Banjar – Anggota DPRD Kabupaten Banjar, Ali Syahbana menanggapi peristiwa helikopter Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) yang mengambil air kolam warga tanpa izin untuk pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Menurut Ali Syahbana, penanggulangan bencana tetap membutuhkan komunikasi publik yang baik.
“Penanganan karhutla adalah tugas kemanusiaan yang sangat penting dan membutuhkan langkah cepat dari seluruh tim di lapangan. Koordinasi yang baik antara petugas dan masyarakat menjadi kunci utamanya,” kata Ali.
Ia meminta pemerintah dan petugas lapangan menemukan solusi terbaik agar penanganan darurat tidak mengabaikan roda ekonomi rakyat.
“Jalan tengahnya melalui komunikasi publik. Dalam keadaan kedaruratan, persoalan ini sama-sama penting. Satu sisi tugas kemanusiaan, satu sisi usaha hidup warga,” lanjutnya.
Ali berharap pemetaan titik sumber air segera dievaluasi demi kelancaran tugas bersama.
“Melalui komunikasi yang terbuka, evaluasi pemetaan sumber air, serta solusi yang bijak bagi pihak yang terdampak, kita bisa memastikan penanggulangan bencana berjalan efektif sekaligus tetap menjaga keterpaduan antara pemerintah dan warga,” tutup Ali.
Sebelumnya, penanganan Karhutla di Kabupaten Banjar memicu keluhan warga. Helikopter BNPB mengangkut air dari kolam pemancingan milik H Ahmad Jailani di Cindai Alus, Kota Martapura, tanpa izin terlebih dahulu.
Ahmad menyaksikan armada udara menyerap pasokan air dari tempat usahanya berulang kali pada Kamis (27/8/2026) siang.
“Kami tadi sekitar jam 12-an siang melihat helikopter mengambil air dari kolam. Kurang lebih sampai 14 kali. Pertama kali diambil sudah kami larang dan kami beri isyarat, tetapi tetap dilakukan,” ujar Ahmad.
Ia menyayangkan ketiadaan komunikasi awal. Kolam berisi sekitar dua ton ikan itu baru saja diisi ulang memakai biaya pribadi yang cukup besar.
“Kami ini melangsir air untuk mempertahankan ikan. Kemarin baru saja kami mengisi kolam. Hampir 100 kali bolak-balik, biaya satu kali langsir kurang lebih Rp600 ribu,” jelasnya.
Ahmad menegaskan dirinya mendukung penuh pemadaman bencana. Namun, ia mempertanyakan prosedur penggunaan fasilitas milik warga.
“Belum ada pemberitahuan sebelumnya kalau mau mengambil air di sini. Kami tentu mendukung upaya pemadaman, tetapi seharusnya ada komunikasi dulu,” tegasnya.
Pewarta: Ferdi Oetaya
Editor: Pranata
