RepublikBerita, Banjarbaru – Sebanyak 2,4 ton ikan sapu-sapu berhasil diangkat dari perairan kawasan Guntung Paikat, Kecamatan Banjarbaru Selatan, dalam Festival Tangkap Ikan Sapu-Sapu, Sabtu (22/8/2026) lalu.
Jumlah itu memang terlihat sebagai capaian besar. Namun, persoalan sebenarnya belum selesai. Di balik tumpukan ikan yang berhasil diangkat, masih terdapat sapu-sapu yang bersembunyi di bawah dan celah tepian sungai.
Artinya, festival sehari belum serta-merta membuat ancaman ikan invasif tersebut hilang dari perairan Banjarbaru.
Lurah Guntung Paikat, Reza Pahlevi, mengakui masih ditemukannya ikan sapu-sapu setelah kegiatan berakhir. Menurutnya, karakter ikan yang mampu masuk ke bagian bawah dan celah tepian sungai membuat penangkapan secara massal dalam satu kegiatan belum cukup untuk menekan populasinya.
“Kalau hanya sekali kegiatan, hasilnya memang cukup banyak, sekitar 2,4 ton itu hampir satu truk. Tapi masih ada sisa, karena ikan sapu-sapu ini masuk ke bawah-bawah dan bersarang di sana,” ujar Reza.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Sebab, apabila pengendalian hanya dilakukan melalui festival dan tidak dilanjutkan dengan pemantauan maupun penangkapan secara berkala, populasi ikan sapu-sapu berpotensi kembali berkembang.
Reza pun meminta kegiatan serupa tidak berhenti sebagai agenda tahunan.
“Kami menyarankan jangan sampai kegiatan seperti ini hanya setahun sekali. Harus rutin. Kami perlu berkolaborasi dengan dinas-dinas terkait, masyarakat maupun penggiat lingkungan lainnya untuk menentukan seperti apa penanganan ikan sapu-sapu ini,” katanya.
Festival tersebut melibatkan seluruh kelurahan di Kecamatan Banjarbaru Selatan dengan Guntung Paikat sebagai lokasi kegiatan. Selain mengurangi populasi ikan sapu-sapu, kegiatan juga ditujukan untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap kondisi lingkungan perairan.
Panitia bahkan memberikan kupon doorprize berdasarkan hasil tangkapan. Setiap tiga kilogram ikan sapu-sapu yang dikumpulkan mendapatkan satu kupon. Peserta dengan tangkapan terbanyak mencapai sekitar 174 kilogram.
Namun, di sisi lain, besarnya hasil tangkapan justru memperlihatkan bahwa keberadaan ikan sapu-sapu di perairan bukan persoalan yang bisa diselesaikan dalam sehari.
Setelah ikan diangkat, pemerintah juga melakukan penebaran bibit ikan lokal maupun ikan budidaya seperti betok, papuyu dan nila secara simbolis. Penebaran dalam jumlah lebih banyak direncanakan setelah musim hujan dengan mempertimbangkan kondisi air dan kadar oksigen.
“Kemarin baru simbolis sekitar 10 sampai 15 plastik. Setelah musim hujan, baru kita rencanakan penebaran dalam jumlah lebih banyak. Kita mempertimbangkan kondisi air dan oksigen, jangan sampai ikan yang ditebar justru tidak bisa bertahan,” jelas Reza.
Persoalannya kemudian menjadi lebih luas. Bukan hanya bagaimana menangkap sapu-sapu, tetapi bagaimana memastikan ekosistem perairan kembali seimbang setelah ikan invasif tersebut ditekan.
Kekhawatiran terhadap ikan sapu-sapu juga menjadi perhatian Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarbaru.
Kabid Perikanan DKP3 Banjarbaru, Risna, mengatakan ikan sapu-sapu merupakan jenis ikan invasif yang keberadaannya dapat mengganggu ekosistem perairan. Menurutnya, ikan tersebut berpotensi mengganggu keberadaan biota lokal, termasuk papuyu, haruan dan sepat.
“Yang menjadi bahaya dari ikan sapu-sapu ini karena sifatnya invasif dan memakan biota asli kita. Ikan-ikan lokal seperti papuyu, haruan dan sepat juga dimakannya,” ujar Risna, Kamis (3/9/2026).

Menurut Risna, perkembangan populasi ikan sapu-sapu yang relatif cepat membuat penanganannya membutuhkan strategi berkelanjutan. Kegiatan penangkapan secara massal dinilai perlu diikuti dengan program rutin dan keterlibatan masyarakat.
Namun, di tengah dorongan agar pengendalian dilakukan secara berkelanjutan, DKP3 Banjarbaru mengakui keterbatasan anggaran menjadi kendala.
Untuk 2026, DKP3 belum memiliki program khusus berupa kegiatan besar untuk pengendalian ikan sapu-sapu. Harapan program tersebut baru diarahkan masuk dalam perencanaan 2027.
“Untuk tahun ini karena anggaran yang sangat terbatas, kami belum merencanakan kegiatan khusus itu. Tapi untuk 2027, insyaallah akan kami upayakan,” katanya.
Kondisi ini membuat keberlanjutan pengendalian ikan sapu-sapu masih menjadi tanda tanya. Festival telah berhasil mengangkat 2,4 ton ikan dari perairan, tetapi belum ada program khusus yang disiapkan untuk melanjutkan pengendalian pada tahun berjalan.
Meski terkendala anggaran, DKP3 Banjarbaru tidak menutup peluang menggandeng pihak lain. Perguruan tinggi dan mahasiswa, misalnya, dapat dilibatkan dalam kegiatan lingkungan sekaligus pemantauan kondisi perairan.
Risna menilai masyarakat yang tinggal di sekitar sungai justru memiliki posisi strategis karena mereka berinteraksi langsung dengan lingkungan perairan setiap hari.
“Sebenarnya yang paling bagus adalah kerja sama dengan masyarakat. Kalau masyarakat, RT, RW dan kelurahan bisa bersama-sama, menurut saya akan lebih efektif. Apalagi masyarakat sekitar bisa kita berikan kesadaran untuk bersama-sama menjaga ekosistem perairan,” jelasnya.
Kolaborasi juga terbuka dengan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah menjalankan kegiatan lingkungan ketika kemampuan anggaran daerah terbatas.
Dengan demikian, Festival Tangkap Ikan Sapu-Sapu seharusnya tidak berhenti pada persoalan berapa ton ikan yang berhasil diangkat dalam satu hari.
Angka 2,4 ton justru dapat menjadi titik awal untuk mengukur seberapa serius persoalan ikan invasif di perairan Banjarbaru. Pemerintah perlu memastikan ada pemantauan lanjutan, mengetahui apakah populasi kembali meningkat, serta menentukan pola pengendalian yang paling efektif.
Sebab, tanpa program lanjutan, bukan tidak mungkin sungai kembali dipenuhi ikan sapu-sapu dan festival berikutnya hanya menjadi siklus mengulang persoalan yang sama.
Festival boleh menjadi pemantik kesadaran. Tetapi pengendalian ekosistem membutuhkan pekerjaan yang jauh lebih panjang daripada satu hari menangkap ikan.
Pewarta: Ferdi Oetaya
Editor: Pranata
